Home Feature Pengertian Feature, Karakteristik, dan Contohnya

Pengertian Feature, Karakteristik, dan Contohnya

302

Pengertian Feature dan KarekteristiknyaMemahami pengertian feature merupakan bagian dari literasi media. Feature merupakan salah satu jenis karya jurnalistik selain berita dan opini.

Feature seni komunikasi massa yang memadukan berita dan opini. Jika Anda menemukan tulisan yang bukan berita dan bukan opini di sebuah media, maka itulah feature.

Karena karakteristiknya yang unik, feature disebut juga “karangan khas”. Biasanya tulisan feature disajikan di majalah atau media dengan konten mendalam (insight).

Tulisan feature tidak mengejar kebaruan, tapi lebih ke “hiburan” dan ulasan mendalam dengan gaya bahasa dan struktur naskah yang menarik. Dengan begitu, feature tidak akan “basi” dan tetap aktual.

Pengertian Feature

Secara bahasa (Inggris), feature artinya menampilkan atau menonjolkan. Isi feature memang menonjolkan sisi lain atau sebuah fakta dalam sebuah peristiwa.

Belum ada kesepakatan di antara para ahli jurnalistik tentang pengertian feature Masing-masing ahli memberikan rumusannya sendiri tentang kata feature.

Jadi, bagaimana pengertian berita, tidak ada rumusan tunggal tentang pengertian feature.

Yang jelas, feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W+1H dan ia bisa dibedakan dengan news, artikel (opini), kolom, dan analisis berita.

“Kita punya kisah atas fakta-fakta telanjang,” kata William L. Rivers, “dan itu kita sebutkan sebagai berita. Di samping berita kita jumpai lagi tajuk rencana, kolom, dan tinjauan, yang kita sebutkan sebagai ‘opinion pieces’. Sisanya yang terdapat dalam lembaran suratkabar, itulah yang disebutkan karangan khas (feature)”.

Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya Jurnalistik Praktis Untuk Pemula (Rosdakarya, 2006) mengemukakan definisi feature sebagai berikut:

“Feature merupakan sebuah ‘karangan khas’ yang menuturkan fakta, peristiwa, atau proses disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk perkaranya.”

Sebuah feature umumnya mengedepankan unsur WHY dan HOS sebuah peristiwa.

Menurut Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature (Simbiosa, 2005), feature adalah cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan, dengan tujuan untuk memberi informasi dan sekaligus menghibur khalayak media massa.

Ensiklopedia Nasional Indonesia (Nugroho, 1990), menjelaskan pengertian feature sebagi suatu ulasan, tinjauan, atau komentar mengenai masalah atau peristiwa yang sedang hangat diberitakan oleh pers atau diperbincangkan oleh khalayak.

Penulisan feature “mutlak” dilakukan oleh redaksi sebuh media massa cetak, terutama mingguan, dwimingguan, dan bulanan. Bersaing dengan media elektronik (dan kini media online), media cetak tentu tak akan mampu “mengalahkannya” dalam hal aktualitas dan kecepatan penyampaian informasi kepada khalayak. (M. Romli, 2006: 21).

Pengertian praktisnya, feature adalah karya jurnalistik yang menggunakan gaya sastra seperti penulisann cerita pendek (cerpen) atau novel.

Berbeda dengan karya fiksi yang ceritanya karangan atau hasil imajinasi penulis, cerita dalam feature benar-benar terjadi (faktual) atau kisah nyata.

Menurut Wicaksono (2007), cerita feature adalah artikel yang kreatif, kadang kadang subjektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.

Menurut Daniel R. Williamson (1983), feature ibarat desir angin di antara pepohonan. Setiap orang mudah merasakannya, namun sulit merumuskan rasa itu dalam kata-kata.

Menurut Mc. Kinney, feature adaah suatu tulisan yang berada di luar tulisan bersifat berita langsung. Dalam tulisan ini pegangan utama 5W1H dapat diabaikan.

Bara Juga:  Pengertian Foto Jurnalistik dan Jenis-Jenisnya

Wolseley dan Campbell dalam Exploring Journalism (1957) memasukkan feature ke dalam segi hiburan (entertainment). Ia mengibaratkan feature sebagai “asinan dalam sajian makanan”.

Ia idak memberikan kalori utama, tetapi ia menimbulkan selera makan dan penyedap. Ia merupakan bagian cukup penting, sehingga surat kabar memenuhi pula fungsi ketiga yang tidak dapat diabaikan, yakni hiburan (entertainment) di samping fungsi memberi informasi dan pendidikan (Assegaff, 1983:55).

Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.

Dalam penulisan feature, kehendak, opini, atau subjektifitas pandangan penulis sangat mungkin untuk dimasukan, meskipun tidak secara mencolok.

Opini itu tersamar dalam pelukisan suasana, penggunaan contoh-contoh, serta penyertaan narasumber pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya.

Feature dapat menjadi alat ampuh melawan kebasian berita. berita hanya berumur 24 jam. Dengan feature, sebuah berita dapat dipoles menjadi menarik kembali dan tetap aktual.

Asal Usul Feature

Menurut Romli, jenis tulisan feature muncul ketika sastra memasuki jurnalisme atau wartawan memakai pendekatan sastra dalam menulis berita.

Teknik penulisan feature menjadi sarana untuk mengembangkan gaya penulisan berita agar lebih menari, menghibur, ringan, dan cair.

Penulisan karya jurnalistik dengan gaya sastra dipelopori Wolfe dan memunculkan istilah “jurnalisme sastra”.

Pemakaian gaya fiksi untuk mengemas laporan jurnalistik memunculkan fenomena baru dalam hal fakta, perubahan definisi, proses pengamatan dan pencariannya.

Begitu pula dalam hal kaitan penyajian serta perubahan konversi bentuk dan gaya pengulasan.

Karena keunikan itu, feature disebut juga tulisan “nonfiksi kreatif” (creative nonfiction).

Dikenal sebagai nonfiksi sastra, nonfiksi naratif, jurnalisme sastra, atau verfabula, feature adalah genre penulisan yang menggunakan gaya dan teknik sastra untuk menciptakan narasi yang akurat secara faktual.

Nonfiksi kreatif berbeda dengan nonfiksi lainnya, seperti penulisan akademik atau teknis atau jurnalisme, yang juga berakar pada fakta akurat meskipun tidak ditulis untuk menghibur berdasarkan gaya prosa. Banyak penulis melihat nonfiksi kreatif sebagai tumpang tindih dengan esai.

Karakteristik Feature

Karakteristik utama feature adalah menceritakan sisi-sisi kemanusiaan atau human interest daam sebuah peristiwa. Sisi ini merupakan aspek yang paling dominan dalam sebuah tulisan feature.

Berikut Karakteristik Feature selengkapnya:

1. Kreatif

Sebagaimana dikemukakan di atas, feature adalah “nonfiksi kreatif” dengan gaya penulisan sastra. Karenanya, penulisan feature membutuhkan kreativitas penulisnya, dalam mencari objek tulisan yang khas, yang kadang-kadang merupakan peristiwa biasa, namun belum pernah atau jarang terungkap.

2. Variatif

Sebuah feature ditulis dengan gaya penulisan yang variatif dengan mampu membangkitkan imajinasi pembacanya.

Diksi atau pilihan kata, komposisi atau rangkaian kata-kata, kalimat dan paragrafnya, dari fakta-fakta yang diperoleh ditulis tidak monoton, hidup dan variatif.

Bara Juga:  Pengertian Pers serta Karakteristik, Jenis, dan Fungsinya

3. Subjektif

Feature bersifat subyektif. Yakni sangat tergantung sudut pandang, wawasan, intelektual, ketrampilan, dan karakter penulisnya.

Dengan penggunaan model “aku”, memungkinkan penulis memasukkan emosi dan pikirannya.

4. Informatif

Feature membantu pembaca dengan memperjelas suatu keadaan untuk merasakan gambaran dari suaru kejadian, atau mempengaruhinya bertindak atau percaya.

Nilai informatif feature berbeda dengan berita langsung yang benar-benar menyajikan informasi. Informasi dalam feature lebih mendalam dan lengkap.

5. Menghibur

Bahan feature dengan sengaja dicarikan dari cerita yang ekslusif dan ditulis secara mendalam (indepth), termasuk aspek humor yang menyertainya

6. Mengandung human interest

Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi –menghibur, memunculkan empati, keharuan, bisa juga membangkitkan amarah. Sebuah feature umumnya mengandung segi human touch ­­-­menyentuh rasa manusiawi.

7. Mengandung unsur sastra

Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra.

Feature ditulis dengan cara atau cara menulis fiksi. Karenanya tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel sehingga menjadi bacaan ringan dan menyenangkan namun tetap informatif dan faktual.

Seorang penulis feature pada dasarnya atau pada prinsipnya adalah seorang yang bercerita (storyteller). Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur.

Seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam melihat, memandang, dan menghayati suatu peristiwa. Ia harus mampu pula menonjolkan suatu hal yang meskipun sudah umum, namun belum terungkap seutuhnya.

Stuktur Tulisan Feature

Struktur tulisan feature umumnya disusun seperti kerucut terbalik, yang terdiri dari:

  1. Judul (head),
  2. Teras (lead),
  3. Bridge atau jembatan antara lead dan body
  4. Tubuh tulisan (body),
  5. Penutup (ending).

Judul feature mirip judul cerpen atau novel. Ia tidak harus berupa kalimat lengkap seperti judul berita. Judul feature bahkan bisa hanya satu kata, layaknya judul puisi atau cerpen.

Lead, intro atau teras feature, berisi hal terpenting unuk menarik perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang (angle) dimulainya penulisan.

Bridge berupa kalimat yang menyambungkan lead dengan body.

Penutup feature biasanya mengacu pada lead, menimbulkan kenangan atau kengerian, menyimpulkan yang telah diceritakan, atau mengajukan pertanyaan tanpa jawaban.

Menurut Luwi Ishwara dalam Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, tidak seperti pada berita piramida terbalik, struktur feature adalah organik. Ada permulaan cerita, pertengahan serta penutup, dan semua bagian erat saling berhubungan.

Ini berarti bahwa sebelum menulis feature, penulis harus memikirkan cerita itu secara keseluruhan. Dalam feature, pembuka, bentuk apa pun yang yang akhirnya diambil, berasal dari pendekatan penulis pada seluruh cerita.

Jadi, sebelum membentuk paragrap pembuakaan, penulis harus melangkah mundur dari bahan (tulisan) dan berusaha menemukan suatu tema atau “sudut” yang akan menyatukan artikel dan membangkitkan minat membaca” (Ishwara, 2005).

Dalam feature tidak ada bagian dari sebuah feature yang begitu jelas membedakannya dengan berita piramida terbalik daripada penutupnya.

Kebanyakan berita tidak mempunyai penutup yang fungsional tidak bisa dipendekkan dengan cara memotongnya dari bawah.

Dalam feature, penutupan mempunyai peran ganda: untuk menyatakan kembali sudut cerita dengan cara yang akan meninggalkan kesan mendalam pada pembaca dan menyajikan cerita yang jelas dan indah (Ishwara, 2005).

Bara Juga:  Pengertian Jurnalistik dan Jenis-Jenisnya

Menurut Redaktur Senior Majalah Gatra, Yudhistira ANM Massardi, kisah dalam feature itu deskriptif, memaparkan peristiwa secara objektif, sehingga bisa membangkitkan bayangan-bayangan kejadian yang sesungguhnya kepada pembaca.

Jadi, Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘’mengisahkan sebuah cerita’’.

Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.

Fungsi Feature

Fungsi feature mencakup lima hal:

  1. Sebagai pelengkap sekaligus variasi sajian berita langsung (straight news)
  2. Pemberi informasi tentang situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi
  3. Penghibur atau sarana rekreasi dan pengembangan imajinasi yang menyenangkan
  4. Wahana pemberi nilai dan makna terhadap suatu keadaan atau peristiwa
  5. Sarana ekspresi yang paling efektif dalam memengaruhi khalayak.

Contoh Feature

Contoh 1

Menikah Sederhana di KUA

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja pasangan Abdul Haris dan Arini Robbiijati menyelenggarakan pernikahan. Acara sekali seumur hidup yang umumnya digelar semeriah mungkin itu kali ini justru berjalan sunyi senyap. Tidak ada sesi dangdutan, apalagi pesta semalam suntuk. Berkebalikan dengan orang kebanyakan, akad perkawinan mereka berdua pun diadakan setelah ba’da Maghrib alias seusai matahari terbenam.

Prosesi pernikahan yang begitu sederhana dan kilat ini sampai menimbulkan sebuah tanda tanya besar. Kasak kusuk di antara para tamu undangan sampai terdengar ke telinga pria yang akrab disapa Duris ini. “Mulai dari tetangga, bahkan sampai saudara sendiri pada curiga. Kenapa, nih, orang, kok, nikah buru-buru amat, malam hari pula,” ucap Duris mengingat gosip yang sempat tersebar. “Mamanya teman aku sampai bilang ‘Emang kenapa, sih? Istrinya Duris hamil duluan, ya? Udah pasti ini, mah, makanya nikahnya cepat-cepat.” (Selengkapnya).

Contoh 2

Studi: 90 Persen Negara di Dunia Pernah Dijajah Inggris

Negara manakah yang paling banyak menjajah negara lain? Jika Anda menjawab Inggris, maka jawaban itu benar.

Sebuah studi terbaru menunjukkan 90 persen negara di dunia ternyata pernah dijajah Inggris. Dari sekitar 200 negara di dunia saat ini, hanya 22 negara yang sama sekali tak pernah dijajah Inggris, antara lain Guatemala, Tajikistan dan Kepulauan Marshall termasuk satu negara Eropa, Luksemburg.

Sejarah penjajahan Inggris itu dimuat dalam sebuah buku berjudul All Countries We’ve Ever Invaded: And the Few Never Got Round To, karya Stuart Laycock.

Untuk menulis buku ini, Stuart berkeliling dunia ke negara-negara yang pernah dijajah Inggris. Dia melakukan riset sejarah persinggungan sebuah negara dengan Inggris.

Namun, dari daftar negara itu hanya sebagian kecil yang benar-benar pernah menjadi wilayah Kekaisaran Inggris. Sementara negara lain dimasukkan ke dalam daftar, karena sedikit banyak Inggris pernah hadir di wilayah mereka.

(Isi feature berikutnya menguraian sejarah penjajahan Inggris di Kuba, Islandia, Vietnam).

Demikian pengertian feature dan karakteristiknya plus contoh feature.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here